Selasa, 17 Januari 2017

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen 14 April - 7 Mei 1949

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen 14 April - 7 Mei 1949 - Seperti kita ketahui bersama bahwa konflik Indonesia dan Belanda meski Indonesia sudah mendapatkan kemerdekaannya masih tetap berlanjut. Hal ini karena Belanda nampaknya belum begitu rela melepaskan kekuasaannya secara menyeluruh terhadap Indonesia. Maka keadaan ini kemudian berlarut-larut dan bahkan sampai pasca Indonesia mendapatkan kemerdekaannya. Dengan perselisihan yang masih berkepanjangan ini, maka kemudian memunculkan beberapa perjanjian yang digelar antara Belanda dan Indonesia guna untuk mendapatkan perdamaian.

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen
Latar Belakang Perjanjian Roem Royen
Perjanjian yang dilakukan diantaranya adalah perjanjian Renville yang dilakukan di atas kapal perang Renville, baca Sejarah dan Latar Belakang Perjanjian Renville untuk penjelasan selengkapnya. Selain perjanjian Renville, ternyata ada perjanjian lain yaitu perjanjian Roem Royen. Nah, bagaimanakah sejarah dan latar belakang perjanjian Roem Royen ini, simak ulasan di bawah ini.

Latar Belakang Perjanjian Roem Royen

Perjanjian Roem Royen sendiri adalah sebuah perjanjian yang akan mengakhiri sengketa berkepanjangan dan konflik antara Indonesia dan Belanda. Perjanjian Roem Royen yang pertama adalah dilakukan pada tanggal 14 April 1949 - 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Latar belakang perjanjian Roem Royen disebut dengan "Roem Royen" sendiri karena diambilkan dari nama kedua pemimpin delegasi dari kedua belah pihak. Untuk delegasi Indonesia, dalam perjanjian ini dipimpin oleh Mohammad Roem sedangkan untuk pimpinan delegasi dari Belanda adalah Herman Van Roijen.

Sedangkan dalam pelasanaan Perjanjian Roem Roijen ini diawasi
langsung oleh Komisi PBB untuk Indonesia atau NUCL. Maksud dan tujuan dari diselenggarakannya perjanjian Roem Royen adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah yang masih ada pada masa kemerdekaan Indonesia sebelum KMB atau Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama. Sedangkan latar belakang Perjanjian Roem Royen dilaksanakan adalah adanya serangan dari Belanda di Yogyakarta. Selain serangan ke Yoyakarta, Belanda juga menahan kembali para pimpinan Indonesia yang kemudian kedua pemicu ini menyulut kecaman dari dunia internasional.

Sementara itu, di sisi lain Belanda juga gencar melakukan propaganda bahwa TNI telah hancur lebur pada Agresi Militer II. Pada Agresi Militer II ini dunia internasional mengecam begitu keras, terutama Amerika Serikat yang kemudian memunculkan Konferensi Meja Bundar atau KMB di Deen Hag. Perjanjian Roem Royen ini diikuti oleh beberapa anggota delegasi. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Mohammad Roem dengan anggotanya adalah Ali Sastro Amijoyo, Dr. Leimena, Ir. Juanda, Prof. Supomo, dan Latuharhary.

Artikel lain :

Anggota Delegasi Pada Perjanjian Roem Royen

Sedangkan delegasi dari Belanda, dipimpin oleh Dr.J.H. Van Roijen yang beranggotakan Blom, Jacob, dr.Van, dr. Gede, Dr.P.J.Koets, Van Hoogstratendan, dan Dr. Gieben. Dalam perjanjian Roem Royen tersebut berjalan sangat alot, dan masing-masing pihak mengklaim kebenarnnya dengan berbagai Argumen. Delegasi Indonesia sendiri kemudian mendapatkan suntikan kekuatan dengan hadirnya Drs. Mohammat Hatta dari pengasingan Bangka. Dan juga tambahan kekuatan moril dari Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta dengan pernyataannya "Jogjakarta is de Republiek Indonesie" (Yogyakarta adalah Republik Indonesia). Dalam perundingan Roem Royen ini, keahlian dalam berdiskusi nampaknya benar-benar diuji.


Nah teman-teman, itulah sedikit penjelasan mengenai latar belakang Perjanjian Roem Royen yang bisa kami sampaikan kepada teman-teman semuanya. Semoga sedikit informasi terkait latar belakang perjanjian Roem Royen di atas bisa menambah pengetahuan dan pemahaman kita semua tentang perjanjian Roem Royen itu sendiri. Untuk isi dan dampak perjanjian Roem Royen, akan kami sampaikan pada pembahasan selanjutnya.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Latar Belakang Perjanjian Roem Royen 14 April - 7 Mei 1949

0 komentar:

Posting Komentar